Masuk - Daftar - Jadikan Beranda - Favorit - Peta Situs Belajar dari Ledakan MAN 3 Padang, Peneliti UI: Sekolah Terlatih Deteksi Pelanggaran Berisik, Bukan Penderitaan Senyap!

Belajar dari Ledakan MAN 3 Padang, Peneliti UI: Sekolah Terlatih Deteksi Pelanggaran Berisik, Bukan Penderitaan Senyap

Waktu: 2026-09-19 06:26:45 Sumber: Juniki Penulis: Berita Dibaca: 725x

Kasus ledakan bom rakitan oleh seorang siswa MAN 3 Kota Padang membuka kotak pandora mengenai rapuhnya sistem deteksi dini kekerasan di lingkungan institusi pendidikan.

Peneliti di Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia (UI), Wawan Kurniawan, menegaskan bahwa riset kekerasan di sekolah menunjukkan pelaku hampir tidak pernah "tiba-tiba meledak”.

Hal ini dipertegas oleh pernyataan guru dan teman kelas pelaku berinisial R, mereka menilai pelaku merupakan siswa pendiam yang tidak menonjol.

Namun ternyata dibalik itu, hampir selalu ada sinyal awal, terutama yang disebut sebagai leakage atau kebocoran niat.

"Kebocoran niat ini bisa lewat ucapan sambil lalu, tulisan, atau unggahan di media sosial. Sering kali hal ini diketahui oleh teman sebaya, namun tidak pernah sampai ke telinga orang dewasa atau guru," ungkap Wawan kepada Kompas.com, Selasa (14/7/2026).

Pernyataan ini sesuai dengan keterangan teman sekelas pelaku, yang menyebut bahwa sebelum melakukan aksi, R selaku memposting bahan untuk merakit bom di media sosial.

Sinyal lain yang kerap lolos dari pengamatan adalah penarikan diri yang makin dalam, fiksasi atau ketertarikan baru pada tema-tema kekerasan, hingga munculnya "ketenangan" mendadak yang sebenarnya merupakan fase kepasrahan.

Wawan mengkritik sistem pengawasan sekolah yang dinilai salah fokus dalam membaca dinamika psikologis murid.

"Akar masalahnya, sekolah kita cenderung terlatih mendeteksi pelanggaran yang berisik, bukan penderitaan yang senyap. Jika ada klaim 'tidak ada laporan perundungan', itu hampir selalu berarti tidak ada saluran pelaporan yang dipercaya oleh siswa, bukan berarti perundungan itu tidak ada," tegasnya.

Bahaya Group Polarization dan Peran Media

Selain faktor internal sekolah, Wawan juga menyoroti bahaya ruang digital dan pola pemberitaan media.

Di dunia maya, keberadaan grup daring yang homogen dapat memicu group polarization (polarisasi kelompok), di mana sikap anggotanya bergeser menjadi makin ekstrem.

Anonimitas di internet menurunkan rem sosial dan menormalkan hal-hal yang di dunia nyata dianggap tabu.

"Yang paling merusak empati adalah dehumanisasi. Calon korban hanya hadir sebagai abstraksi—'mereka, para perundung'—bukan sebagai manusia konkret. Ironisnya, bagi remaja yang terisolasi, komunitas daring yang memvalidasi rencana kekerasannya justru menjadi komunitas pertama yang mau menerimanya," jelas Wawan.

Di sisi lain, Wawan mengingatkan media massa agar berhati-hati dalam membingkai kasus ini.

Pemberitaan kasus serupa di masa lalu yang terlalu detail dan luas rentan berfungsi sebagai cetak biru (model) bagi remaja lain yang sedang mencari pelampiasan atas kemarahannya.

"Liputan yang terlalu mendetail menyediakan naskah siap pakai. Remaja yang terluka tidak perlu mengarang solusinya sendiri, mereka tinggal meniru narasi yang beresonansi dengan luka mereka. Cara media membingkai kasus ini sekarang akan menentukan ada-tidaknya peniru (copycat) berikutnya," tutup Wawan.

(Editor: Berita)

Konten Terkait
  • Febrie Adriansyah Jadi Tersangka, Kejagung Pelajari Alat Bukti dari Polri
  • Urai Kepadatan Ketapang-Gilimanuk, Menhub Optimalkan Pelabuhan Tanjung Wangi dan Celukan Bawang
  • Terima Kunjungan Dubes Houssaini, Megawati Diundang ke Maroko
  • Rusia Terus Gempur Ukraina, 13 Orang Tewas-50 Luka
  • Prabowo Banggakan Petani: Yang Bilang Beras Mahal, Ikut Tanam Padi Sendiri
  • Jadwal KRL Jogja-Solo Jumat 17 Juli 2026, Berangkat dari Yogyakarta Pagi hingga Malam
  • ASN Jaksel Bawa Kendaraan Pribadi di Hari Wajib Naik Transum, Mobil Diderek
  • Kena OTT KPK, Bupati Lombok Barat Diduga Terima Duit dari Sejumlah Proyek
Konten Rekomendasi
  • Pelaku Penusukan Acak Beraksi di 5 Lokasi di Tangerang
  • Reza Arap Ungkap Album Weird Genius Hampir Rampung
  • Jadwal Piala Presiden Elite 2026 Mulai 25 Juli, Persib Vs Arema Jadi Laga Pembuka
  • Brimob Polda Metro Gagalkan Aksi Vandalisme Fasilitas Umum di Jaktim
  • Pansus DPR Serap Aspirasi Pemprov Maluku soal RUU Daerah Kepulauan
  • Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan